Meneladani Strategi Rasulullah dalam Menghimpun Kekuatan untuk Menghadapi Musuh

Loading...
Belakangan ini seorang panglima TNI bernama Gatot Nurmantyo sedang menjadi 'artis medsos', karena statemen dan sikapnya yang cenderung membela umat Islam, khususnya saat adanya Aksi Islam 4 November 2016 lalu.

Namun tersebar pula foto bahwa Pak Gatot seakan-akan 'bermain mata' dengan Ahok si penista agama seolah memberi pesan secara tersirat bahwa pembelaan Pak Gatot kepada Aksi Bela Islam 4 November itu hanya sandiwara belaka.

Media Massa dan Perang Opini

Kita harus sadar bahwa Ahok dan pendukungnya tengah melakukan perang opini kepda umat Islam. Mereka senantiasa memanfaatkan sistem demokrasi untuk mengendalikan dan memanfaatkan para aparat muslim yang 'tersandera' oleh sistem, lalu mempropagandakannya melalui media bayaran.

Mereka akan terus memaksakan opini bahwa TNI, POLRI bahkan sebagian ulama yang terjebak satu barisan dengan mereka lalu dengan keji dihadap-hadapkan dengan kekuatan umat Islam. Na'udzubillah.
Ilustrasi

Perbanyak Kawan dan Perkecil Lawan

Kita teringat dengn seorang tokoh munafik bernama Abdullah bin Ubay bin Salul, yang berani membuat fitnah bahwa istri Nabi (Aisyah ra) dituduh berzina, memporak-porandakan barisan kaum muslimin. Di dalam Islam perbuatan Abdullah bin Ubay ini layak dihukum mati, namun ternyata Nabi tiadak melakukannya.

Mengapa demikian? Karena Nabi tahu di hadapan umat Abdullah bin Ubay masih dianggap seorang muslim. Jika Nabi membunuhnya maka akan ada fitnah yang tersebar bahwa Nabi membunuh sahabatnya sendiri.

Selain itu, Nabi pun mempertimbangkan kedudukan Abdullah bin Ubay sebagai pimpinan dua suku besar, yakni Aus dan Khazraj. Jadi dengan hadirnya Abdullah bin Ubay dibarisan kaum muslimin diharapkan Nabi mendapatkan amunisi lebih dari suku Aus dan Khazraj. Nabi pertahankan keadaan ini.

Dalam kisah yang lain, Nabi pun tidak membesar-besarkan kesalahan yang dilakukan oleh kaum muslimin. seperti kisah Hatib bin Abi Balta'ah yang dengan sengaja membocorkan rahasia umat Islam yang akan mendatangi kota Mekkah yang (saat itu) sedang dikuasai oleh kafir Quraisy. Di dalam Islam perbuatan Hatib ini layak dihukum mati, namun Nabi memaafkannya.

Dalam kisah yang lain, saat Nabi akan memerangi kaum Persia, terlebih dahulu Nabi mengadakan gencat senjata dengan kaum kafir quraisy yang dikenal dengan perjanjian Hudaibiyah, dengan demikian Nabi bisa menunda permusuhan kepada Kaum Quraisy dan bisa fokus memerangi kaum Persia.

Itulah strategi Nabi, menambah kawan dan koalisi dalam menghadapi kekuatan musuh.

Menerapkan Strategi Nabi pada Situasi Politik Indonesia

  1. Mayoritas penduduk di Indonesia adalah muslim, dan Indonesia berdiri karena darah para syuhada! fakta ini harus benar-benar disadari oleh kita.
  2. Segeralah menyadarkan umat bahwa Islam dan Ulamanya sedang dinistakan
  3. Hindari perdebatan internal yang bisa melemahkan kekuatan, maafkan kesalahan saudaranya dan carikan 1001 udzur untuk memaafkan
  4. Segera rangkul TNI dan POLRI yang muslim, sadarkan mereka dan sampaikan dengan gamblang kepada mereka tentang kondisi umat ini, mudah-mudahan mereka memiliki hati nurani.
  5. Jangan percaya desas-desus bahwa oknum umat Islam (TNI, POLRI dan Ulama) satu barisan dengan musuh. Buktikan bahwa semua itu adalah propaganda untuk memecah-belah kekuatan umat.
  6. Bila terjadi benturan antara aparat dan umat yang menjalankan aksi nanti (Aksi Bela Islam III) tunjukkan kepada aparat bahwa 'kami bukan musuh kalian", lalu segera fokus kepada para penyusup yang sengaja membuat kekacauan, tangkap penyusup tersebut dan serahkan kepada laskar islam.
  7. Ikuti komando para ulama, jangan terkecoh dengan komando oknum yang ngaku-ngaku ulama/aktifis dakwah namun tidak mendapatkan rekomendasi dari para ulama, mengingat infiltrasi intelijen sedang bermain dalam membuat jebakan.

Semoga kita siap menghadapi gempuran fitnah. (By: Ridwan Ababil)

2 Responses to "Meneladani Strategi Rasulullah dalam Menghimpun Kekuatan untuk Menghadapi Musuh"

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete