Seperti Ini Nasib Kita, Kalo Ahok Pimpin Negeri Ini, Coba Lihat!!!

Loading...

Sebuah Kesalahan Fatal!

Setelah Pribumi Singapura Memberikan Kepemimpinan, Akhirnya Lee Kuan Yew Nyatakan Anti Islam & Melayu.

Di bawah ini adalah Yusuf Ishak, muslim melayu, Presiden pertama Singapura (1965-1970), kepala negara yang hingga kini semua gambar uang Singapura adalah gambar dirinya

Singapura, tanah melayu yang kini rakyat melayu tinggal di pinggiran dan banyak yang hanya bisa ngontrak, setelah orangtua mereka wafat, tidak mampu beli rumah. Karena persaingan bisnis yang ketat.

Lee Kuan Yee, melakukan segala upaya untuk mendapatkan jabatan. Mendekati komunitas pribumi (muslim melayu), melakukan banyak hal yang menguntungkan mereka, memakai Peci, sehinggalah kaum muslimin Singapura terpikat dan menjadikannya pemimpin.

Hubungan Lee Kuan Yee sangat dekat dengan para tokoh agama dan adat melayu. Seolah-olah mereka adalah bagian dari dia, dan dia bagian dari mereka:

Lee Kuan Yee dicintai oleh rakyat muslim. Mereka menaruh kepercayaan seutuhnya, bangga dengan sosoknya yang tegas dan merakyat.

Raut wajah kebapakan yang meluluhkan hati.

Senyumnya yang nampak tulus kepada anak-anak muslim, sering memberi santunan.

Dielu-elukan para pendukungnya yang rela berkorban demi dia menuju tampuk kekuasaan.

Sederhana dan merakyat, jangan ajari dia cara pencitraan.
Lee Kuan Yee

Devide et Impera

Setelah berhasil menjadi penguasa seumur hidup di Singapura, menjelang akhir hayatnya dia mulai blak-blakan, anti Islam. Dia mengatakan semua agama dan suku bisa menyatu dan diterima di Singapura, kecuali Islam.

Belakangan ia menguak bahwa dirinya selain anti Islam, anti pula ras melayu, yang notabenenya adalah pribumi Singapura.

Dengan bangganya mengintervensi dan melanggar hak privasi warga negara, jika tidak melakukan itu maka Singapura tidak akan seperti sekarang, kata Lee.

Di sisa umurnya, Lee menegaskan tidak seorang pun bisa menyakitinya lebih besar sebagaimana Lee bisa menyakiti mereka. Lebih dari itu, Lee Kuan Yee nyatakan tidak mungkin non-cina memerintah Cina, yang ada Cina lah yang memerintah non-cina.

Divide et Impera (dipecah belah untuk dihancurkan). Kemudian dari puing-puing nusantara akan dibangun negara baru, 1/4 jumlah populasi RRC saja sudah menjadikan warga Indonesia minoritas di negeri sendiri. Populasi RRC: 1,3 miliar, Indonesia: 250 juta.

Masa depan bangsa Indonesia bisa jadi ada di tangan anda, apakah mau membagikan fakta ini atau tidak. Jangan remehkan sumbangsih anda untuk anak-cucu yang nantinya bisa bernasib sama seperti muslim melayu, pribumi Singapura yang berhasil dikelabui, untuk dikuasai.

Begini Nasib Pribumi, Kalo "Cina Kafir" Pimpin Negeri Ini!

Bukan Cerita Biasa

(Iwan mahasiswa UI, bercerita. Suatu hari ia jalan-jalan ke Singapura. Ia kagum dengan kemajuan, sistem, keteraturan dan kebersihan Singapura. Di sebuah masjid, seusai sholat Dhuhur ia bertemu dengan Rauf, warga muslim melayu asli Singapura).

Iwan berkata: Rauf, Anda pasti puas dan gembira dengan kemajuan Singapura. Semua tempatnya bersih, alat transportasi teratur dan maju. Saya dengar pelabuhan Anda bahkan termasuk yang paling sibuk di Dunia, baik laut maupun udara. Sekarang ini, ekonomi Singapura paling maju di Asia Tenggara.

Rauf menjawab: Saya ini muslim Melayu. Kemajuan Singapura dengan yang sudah disebutkan memang benar. Tapi bukan kami yang menikmatinya. Sekarang Singapura buat kami seperti negara baru dan kami orang asing.

Kami tergeser, sekarang tinggal di pinggir-pinggir kota, juga mengontrak karena tak sanggup membeli rumah atau apartemen. Untuk itu saja kami harus bekerja keras. Biaya hidup di sini sangat tinggi, tak sempat kami jalan-jalan menikmati kota. Kalian lihat, ada berapa gelintir Melayu jalan-jalan di mall atau tempat rekreasi? Hampir tak ada.

Dulu Singapura kota yang sederhana, tapi kami jadi muslim yang lebih bebas dan bahagia. Sekarang, jangan lagi suara mengaji, suara adzan tak ada, kecuali di dalam masjid. Jumlah masjid juga sangat sedikit. Di kota hampir tak ada, di mall-mall juga hampir tak sedia tempat sholat.

Dulu kami bebas makan di mana suka. Sekarang, makanan halal susah dicari kecuali di kampung-kampung kita saja. Ke kota, kami bawa bekal, karena kalau tidak mestilah puasa, hampir semua makanan kita lihat tak halal.

Bahasa Melayu pun tak lagi dipakai, Semua orang cakap Inggris dan Mandarin. Negeri kami sekarang ibarat diambil orang. (Iwan tercengang, tidak pernah ia terpikir hal semacam ini.)
Iwan: “Ini negeri kalian, mengapa tak berbuat perubahan?”

Rauf tersenyum kecut, lanjutnya: Dulu kami bisa, kami mayoritas. Sekarang jumlah kami hanya 20% saja dan terus berkurang. Reklamasi dibikin terus, tapi yang menempati bukan kami, orang baru, orang asing. Apa bisa buat dengan jumlah sedikit? Ini sudah jadi negara demokrasi, semua ditentukan dengan suara terbanyak.

Yang mengejutkan Iwan adalah kata-kata Rauf terakhir: “Sepertinya sebentar lagi juga terjadi pada negeri anda."

2 Responses to "Seperti Ini Nasib Kita, Kalo Ahok Pimpin Negeri Ini, Coba Lihat!!!"

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete