Surat Terbuka Untuk Presiden: "Tanah Kami Terus-menerus Dirampas Oleh Negara, Hak Asasi Kami Diinjak-injak Oleh Penguasa"

Loading...
Berikut ini adalah surat terbukan untuk Presiden Jokowi, atas ketidakadilan penguasa yang mereka alami. Surat ini ditulis oleh Febby Pratomo melalui akun facebook-nya pada tanggal 19 November 2016. Surat terbuka ini telah dibagikan oleh banyak pembaca dan mendapatkan komentar dukungan.

Berikut ini kutipan utuh dari surat tersebut tanpa sedikitpun diedit oleh admin;

Yang terhormat Presiden Joko Widodo

Selamat malam, Pak. Sudah selesai acara minum tehnya? Jika Bapak tidak sedang sibuk, mungkin Bapak perlu berkenalan dengan kawan-kawan saya ini. Yang sebelah kiri Pak Karsiman, yang sebelah kanan Pak Dastam.

Mereka berdua memang bukan orang penting, hanya dua orang petani yang sedang mempertahankan tanah mereka. Bukan seperti Pak Prabowo yang baru saja Bapak temui, pemilik jutaan hektar tanah yang tentu saja tak mungkin kena gusur. 
Foto: Korban Kerakusan Penguasa

Perlu pula saya sampaikan bahwa saat ini mereka sedang berada di Polda Jabar, mereka dan beberapa orang lainnya diciduk atas tuduhan provokasi. Lucu ya, Pak. Jika petani yang mati-matian mempertahankan tanah kami sendiri malah di-BAP, eh yang membakar ribuan hektar hutan bebas begitu saja. 

Ah, mungkin Bapak ingin bertanya mengapa mereka terluka. Biasalah Pak, bentrokan dengan aparat. Sayangnya Pak Karsiman juga dapet bonus dipukuli polisi waktu di Polres Majalengka. Apa? HAM? Memangnya kami masih punya? 

Kita ini negara hukum bukan, Pak? Saking negara hukumnya, kawan-kawan saya ini sampai sulit sekali mendapatkan pertolongan pertama. Klinik Polda Jabar sudah tutup, polisi tidak bersedia mendatangkan dokter, mereka tidak bisa pula dibawa ke UGD.

Tapi Bapak jangan khawatir, kami orang-orang kecil sudah terbiasa terluka. Kami sudah terlatih dihadiahi popor senjata atau sekadar gas air mata. Meskipun tanah kami terus-menerus dirampas oleh negara, meskipun hak asasi kami diinjak-injak oleh penguasa, kami akan tetap hidup. 

Saya hanya mau minta tolong, tolong sampaikan kepada seluruh pihak yang terkait dengan proyek ini, proyek yang dijadikan ajang memperkaya diri sendiri, juga tolong sampaikan kepada Gubernur Jabar kami tercinta. Jika bandara internasional yang megah itu kemudian dibangun, tolong diingat bahwa kebanggaan semu itu berdiri di atas air mata dan darah kami. Para petani. Air mata dan darah kami. Rakyat Bapak sendiri.

Salam,

Sampai saat ini rakyat masih menunggu jawaban Presiden? Dan bagaiama komentar Anda?

1 Response to "Surat Terbuka Untuk Presiden: "Tanah Kami Terus-menerus Dirampas Oleh Negara, Hak Asasi Kami Diinjak-injak Oleh Penguasa""

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete